Headlines News :
  • Faceblog Evolutions

    Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

  • Faceblog Evolutions

    Kota Sejarah Malioboro Yogyakarta

  • Faceblog Evolutions

    Mesjid Istiqlal Jakarta

  • Faceblog Evolutions

    Di Gedung Kementerian ESDM Jakarta - Aceh

  • Faceblog Evolutions

    PolGov Days UGM Yoyakarta

  • Faceblog Evolutions

    Kampus UGM Yogyakarta

  • Faceblog Evolutions

    Foto Bersama Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta horisontal

  • Faceblog Evolutions

    Foto Bersama Mahasiswa Ilmu Politik dan Pemerintahan se-Indonesia

  • Faceblog Evolutions

    Rapat di DPRK Aceh Utara Terkait Irigasi Paya Bakong-Pirak Timu

  • Faceblog Evolutions

    Pertemuan dengan Asisten 2 Bupati Aceh Utara

  • Faceblog Evolutions

    Sabang

  • Faceblog Evolutions

    Demo Camat Paya Bakong Terkait Penghilangan Raskin

  • Faceblog Evolutions

    Demo ExxonMobil APO

  • Faceblog Evolutions

    Laut Tawar Takengoen Aceh Tengah

  • Faceblog Evolutions

    Efek blindheight

  • Faceblog Evolutions

    Halaman Rumah Cut Meutia

  • Faceblog Evolutions

    Efek directionTop

  • Faceblog Evolutions

    Keliling Kota Jakarta

  • Faceblog Evolutions

    Keliling Kota Jakarta

  • Faceblog Evolutions

    Efek directionLeft

  • Faceblog Evolutions

    Efek cubeStopRandom

  • Faceblog Evolutions

    Efek cubeSpread

Diberdayakan oleh Blogger.
Topics :
Save Our Palestine
http://aqolakhyar.files.wordpress.com/2013/03/4504d-s.gif

File:Berita Harian Logo.png
Tampilkan postingan dengan label Visit Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Visit Aceh. Tampilkan semua postingan

Bila Ke Aceh Jangan Lupa Ucapkan “Pue Haba”

ACEH merupakan daerah yang memiliki kewenangan khusus di Indonesia untuk mengatur pemerintahan sendiri bersadarkan Undang-Undang Dasar Negara Nepublik Indonesia tahun 1945 yang di tetapkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Posisi Aceh yang penuh dengan keindahan panorama alam yang diapit oleh bukit barisan ditengah-tengahnya dan dikelilingi laut Samudra Hindia di sebelah barat dan laut Selat Malaka di sebelah timur, Aceh memiliki berbagai adat dan budaya, berbagai bahasa daerah, berbagai ras, dan juga menghormati kepercayaan menurut  agama masing-masing.

Kini Aceh mulai bangkit dari keterpurukan masa konflik dan tsunami yang sempat menjadi musibah dan penderitaan rakyat Aceh yang sangat mendalam, dari sisi pembangunan baik jalan, gedung sekolah, perkantoran, maupun tempat pariwisata terus ditingkatkan pemerintah yang dibantu oleh negara-negara internasional dan didukung oleh Pemerintah Aceh dan masyarakat Aceh.

Selama ini pemerintah pusat bersama rakyat Aceh terus membangun konsep kepercayaan bersama untuk menuju Aceh yang sejahtera, makmur, damai, demokratis dan berkelanjutan dalam  pembangunanan  dan perdamaian Aceh yang abadi.

Rakyat Aceh menerima tamu siapa saja yang datang ke Aceh baik investor dalam maupun luar negeri, para wisatawan, para penelitian, kunjungan kerja dan lain-lain sebagainya sejauh tidak bertentangan dengan Agama dan norma-norma adat dan budaya orang Aceh serta peraturan yang berlaku. Karena manyoritas masyarakat Aceh adalah penduduk muslim dan masyarakat Aceh sangat menghargai tamu baik dalam negeri maupun luar negeri, baik itu muslim maupun non-muslim apalagi di ucapkan Pue Haba (apa kabar), Pue Haba merupakan bentuk sapaan orang Aceh kepada saudaranya yang terlebih dahulu di awali dengan kata Assalamu’alaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh (sapaan dalam agama Islam-red), namun bila anda non-muslim jika bertemu dengan orang Aceh cukup mengucapkan “Pue Haba” dan jawabannya pasti “Haba Goet” (kabar baik). [Safrizal]

Wisatawan Membludak ke Sabang


Libur panjang Hari Raya Idul Fitri menyebabkan membludaknya wisatawan menuju ke Pulau Sabang. Sebagaimana dikabarkan media online acehkita.com bahwa Kemarin, pihak Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh menambah jadwal kapal yang menuju ke Sabang akibat banyaknya penumpang.

Pantauan acehkita.com, kepadatan terlihat di Pelabuhan Ulee Lheue. Ratusan orang memadati ruang tunggu pelabuhan. Sementara kendaraan roda dua, roda empat, truk, dan pick-up mengantre di pintu masuk kapal lambat KMP BRR. 

Kepala UPTD Pelabuhan Ulee Lheue Teuku Naziruddin menyebutkan, akibat membludaknya penumpang, trip KMP BRR ditambah menjadi dua kali. “Hari ini dua trip. Trip kedua pada malam hari,” kata Naziruddin kepada wartawan, Jumat (24/8) malam.

Menurutnya, KMP BRR sekali jalan mengangkut 440 penumpang. Sementara kapal cepat Pulo Rondo mengangkut 230 penumpang. Untuk kapal cepat, pihak UPTD Pelabuhan Ulee Lheue juga menambah armada, yaitu Express Bahari. 

Membludaknya penumpang menuju ke Sabang, selain karena arus balik, juga disebabkan oleh arus wisatawan yang hendak berlibur akhir pekan di Sabang. Mereka berasal dari Sumatera Utara. 

“Penumpang rata-rata banyak dari luar Aceh dan juga warga Aceh,” ujar Nizaruddin. “Kunjungan seperti ini sudah sejak hari raya pertama.”

Nizar memprediksi lonjakan penumpang masih akan terjadi hingga sepekan ke depan. “Terutama arus balik dari Balohan Sabang menuju ke Banda Aceh, itu akan sangat tinggi. Bahkan mulai kemarin jumlah arus balik sudah sangat tinggi,” ujarnya.

Pada hari biasanya, KMP BRR hanya mempunyai satu kali pulang-pergi melayani pelayaran Ulee Lheue-Balohan. Begitu juga dengan jadwal kapal cepat Pulo Rondo. “Kalau meningkat begini, kita hanya tambah jadwal, tidak menambah armada kapal,” sebut Nizar. 

Editor: Safrizal
Sumber: acehkita.com

Tsunami Aceh Membawa Berkah

foto by notmisterjeckyll
Rakyat Aceh sekarang menikmati hidup yang penuh kedamain, karna sebelumnya Aceh dikenal daerah konflik yang berkepanjangan di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, serta sebagian daerah Aceh dilanda Gempa dan Tsunami  yang sangat dahsyat pada 26 Desember 2004 lalu.

Namun hal tersebut merupakan pembelajaran atau cobaan Tuhan terhadap umatnya agar senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan kepada hambanya. Dari pembelajaran itu kita dapat mengambil hikmah dan pedoman hidup untuk masa yang akan datang.

Dengan adanya cobaan Tuhan tersebut sampai sekarang masih dapat kita kenang kembali sejarah-sejarah yang pernah melanda Serambi Mekkah melalui bentuk fisik seperti  adanya kapal PLTD Apung 1 di Banda Aceh serta adanya Mesium tsunami yang menyimpan berbagai dokumen bukti tsunami melanda Aceh.

Tsunami Aceh 26 Desember 2004
Selain itu, tsunami juga membawa berkah untuk Aceh walaupun harus rela menerima cobaan yang sedemikiaan rupa. Karna dengan adanya tsunami maka lahirlah sebuah kesepakatan damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia yang melibatkan pihak Crisis Management Initiative (CMI) yang bermarkas di Finlandia, dan Aceh juga di kenal dunia internasional baik adat dan budaya Aceh, bahasa Aceh, penerapan syaria’at islam di Aceh serta dunia internasional juga membantu rakyat Aceh dalam hal pembangunan, pendidika, kesehatan, pengembangan adat dan budaya, serta mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat Aceh baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Sehingga  rakyat Aceh hidup damai dengan lingkunganya sendiri tanpa harus bersembunyi sebagaimana konflik dulu, selain udaranya yang masih segar karna masih banyak hidrokarbon yang tersimpan di bumi Aceh, juga penuh dengan pemandangan-pemandangan pariwisata alam yang bisa menginspirasikan hidup untuk terus berkarya.
***
------------------------------------ 
Aceh loen sayang
Aceh tempat loen lahe
Aceh Tempat loen hudep, dan
Aceh tempat loen mate
------------------------------------

Adat Perkawinan Masyarakat Aceh Dalam Intat Lintoe


Intat Lintoe Baroe
Tradisi adat dan budaya Aceh yang pernah dilakukan orang Aceh sebelumnya  sebagai lambang atau ciri khas masyarakat Aceh dalam setiap acara perkawinan sampai saat ini terus di budayakan oleh anak cucunya sebagai warisan budaya orangtua.
 
Adat dan budaya perkawinan tersebut yang perlu di bawa ketika mengantar pengantin laki-laki meliputi ranup meutalóè, batéé ranup, u seulasön, aneu u, teubéì meu ôn, bakông asóê, bungkông sutra, dan méutulak pantòn, termasuk doem drien setelah acara menikah dan perkawinan selesai. Namun adat dan budaya tersebut yang mudah di dapat seperti di Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Bireun serta Aceh Timur dan beberapa daerah lain mungkin agak berbeda-beda adat dan budayanya. 

Khusus untuk Aceh Utara adat dan budaya intat lintoe baroe (mengantar pengantin laki-laki) sebagai berikut:

Ranup meutalóè (sirih) biasanya masyarakat adat menghiasi dengan berbagai macam bentuk yang di campur dengan pinang, gula serta kapur sirih. Ranup meutalóè ini dibawa oleh pengantin laki-laki (linto baro) kepada pasangan pengantinya (dara baroe) ketika acara peresmian dilangsungkan. Sedangkan batéé ranup merupakan sirih yang di masukan dalam panci, kemudian diletkkan pada tempat penerimaan tamu sebagai adat pemuliaan jamei (tamu) untuk di makan terlebih dahulu sebelum menikmati hidangan yang disediakan. 

U Seulasön merupakan kelapa yang dihiasi, dimana kulit luar kelapanya dikupas, biasanya hanya meninggalkan sedikit kulit luar untuk di buat tali sebagai ikatan, yang kemudian di ikat satu sama lain. Guna dan manfaat u seulasön ini untuk pengantinnya sendiri di kemudian sebagai bahan masakan dan keperluan lain sebagainya, karna mengingat pengantin baru tentu kelapanya yang kepunyaan sendiri belum ada.

Aneuk u (bibit kelapa) merupakan salah satu adat yang menarik ketika intat lintoe karna aneuk u ini di desain dengan berbagai bentuk seperti pesawat, kapal laut, tank, mobil, mesin perontok padi, namun desain tersebut di buat berdasarkan daerah, misalnya daerah pengunungan bibit kelapa ini didesain seperti mesin belah kayu (sensoe) karna daerah tersebut banyak pohon, daerah kota di desain seperti mobil, daerah pinggiran laut didesain seperti kapal laut dll. Guna dan maksud di bawa bibit kelapa ini dalam mengantar pengantin laki-laki untuk ditanam oleh sang lintoe baroe dan dara baroe sebagai bentuk awal dari kehidupan baru.

Teubéì meu ôn (tebu) juga merupakan salah satu adat masyarakat Aceh dalam perkawinan, bila teubéì meu ôn ini belum ada tentunya perkawinan di batalkan, namun dalam setiap perkawinan teubéì meu ôn sudah terlebih dahulu di siapkan sang linto baroe (pengantin laki-laki) untuk di bawa ke dara baroe (pengantin perempuan) ketika inta linto (mengantar pengantin laki-laki) di langsungkan.

Nah, bagaimana dengan bakông asóê (tembakau), bakông asóê ini biasanya di gunakan oleh orangtua atau nenek-nek untuk menghangatkan badan, namun bagi yang belum pernah mencoba bakông asóê tentu saja merasakan pusing ataupun mual. Dalam setiap intat lintoe bakông asóê ini dibawa kepada dara baroe yang dihiasi dengan berbagai macam bentuk. Guna dan manfaat bakông asóê untuk menghargai orangtua  atau nenek-nenek.

Bungkoh Sutra
Selain itu, adanya bungkông sutra yang merupakan kumpulan dari semua aksesoris dara baroe seperti baju, rok, kain, kosmetik, sandal, kerudung, perlengkapan shalat, dll. Biasanya bungkông sutra ini di sediakan pihak lintoe baroe untuk diserahkan kepada permaisurinya dara baroe. Guna dan manfaat untuk memenuhi kelengkapan sang kekasihnya dalam berumah tangga.

Meutulak pantòn (balas pantun) merupakan adat perkawinan ketika sang lintoe baroe datang ke istana kekasihnya yang di antar oleh kerabatnya, dimana sebelum memasuki ke istana (pelaminan) sang raja si uroe (raja sehari) di berhentikan dulu oleh pihak istana dara baroe guna untuk menjawab beberapa pantun yang disediakan, bila pihak raja tidak bisa membalasnya atau menjawab maka didenda oleh pihak ratu (dara baroe) baik berupa uang maupun tambahan mahar atau mas kawin. Sampai saat ini méutulak pantòn tersebut sudah jarang ditemukan ketika ada acara perkawinan.


Dara Baroe (pengantin perempuan)
Bagaimana dengan doem drien (pengawal pengantin), doem drien ini merupakan tradisi adat yang dijalankan masyarakat Aceh setelah acara pernikahan dan perkawinan selesai, dimana doem drien ini dilakukan beberapa malam di rumah pengantin. Guna dan manfaat doem drien  tersebut untuk mengawal atau menemani sang pengantin baru, karna mengingat mereka belum saling mengenal. Tapi sekarang doem drien itu tidak pernah lagi di lakukan karna setiap pasangan yang menikah tentu saja sudah saling mengenal melalui pacaran atau tunangan.

Selain itu, tradisi perkawinan masyarakat Aceh juga mengguakan pakaian dan umbul-umbul adat dan budaya Aceh serta tidak terlepas dengan upacara peusijeuk (tepung tawar) kepada kedua pasangan linto baroe dan dara baroe.



Editor: Safrizal

Aceh Utara Panen Durian

Warga Kecamatan Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara sedang  menawarkan harga durian yang diletakkan di pinggir jalan Pante Bahagia yang tepatnya di Desa Blang Gunci kecamatan setempat.

Harga durian yang mencapai Rp. 5,000 sampai dengan Rp. 20,000 tersebut merupakan harga yang bervariasi karna tergantung dari besar dan kecilnya buah durian.

Dimana masyarakat Aceh Utara khususnya setiap tahun selalu menikmati buah durian dari  hasil kebunnya sendiri, biasanya panen durian setiap tahun sekali, namun kebanyakan musim panen tersebut pada bulan Juli atau menjelang bulan suci ramadhan.

Bagi masyarakat Aceh panenya durian itu bagai  datangnya hari lebaran yang mendatangi saudara-saudaranya untuk menikmati durian tersebut.

Untuk menikmati durian biasanya disediakan berbagai macam menu sebagai bahan pelengkap hidangan, seperti pulut dan kentan. Karna dengan adanya pulut dan kentan hidangan durian menjadi terasa dan enak.
warga sedang menawarkan harga durian
Sejumlah agen durian berkumpul
Pada bulan ini masyarakat Aceh Utara panen dengan duria khusnya di beberapa Kecamatan dalam Kabupaten Aceh Utara seperti Kecamatan Paya Bakong, Pirak Timu, Nisam, Cot Girek, Langkahan, serta Simpang Keuramat.

Bila anda ingin mendapatkan durian bisa mendatangi langsung ke kebun masyarakat karna selain harganya yang murah juga dapat memilih sendiri sesuai dengan keinginan, namun bila anda tidak memungkinkan membeli durian ke kebun bisa mendapatkan di pasar baik pasar kecamatan maupun pasar kabupaten/kota, tetapi harganya tidak sama dengan harga yang dijual oleh masyarakat, karna mengingat adanya agen durian yang mendatangi langsung ke kebun masyarakat tentu harganya sedikit berbeda. [Safrizal]

Sejarah Kota Banda Aceh

Dalam posting  ini kami merilis sedikit tentang sejarah lahirnya Kota banda Aceh Provinsi Aceh, berhubungan ada beberapa teman yang ingin mengetahui atau sebagai referensinya tentang sejarah kota Banda Aceh yang letak astronomisnya di 05°16' 15" - 05° 36' 16" Lintang Utara dan 95° 16' 15" - 95° 22' 35" Bujur Timur dengan tinggi rata-rata 0,80 meter diatas permukaan laut. Maka kami mencoba mencari beberapa sumber atau refenrensi terpercaya tentang sejarah Kota Banda Aceh yang dalam peta terletak di ujung barat pulau Sumatra.

Berikut dapat saudara (i) baca sejarah lahirnya Kota Banda Aceh.

Kerajaan Aceh [Sekarang Mesjid Baiturrahman]
Kerajaan Aceh Darussalam dibangun diatas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra dan Kerajaan Indra Pura. Dari penemuan batu-batu nisan di Kampung Pande yang salah satunya adalah batu nisan Sultan Firman Syah cucu dari Sultan Johan Syah diperoleh keterangan bahwa Banda Aceh adalah ibukota Kerajaan Aceh Darussalam yang dibangun pada hari Jum'at, tanggal 1 Ramadhan 601 H ( 22 April 1205 M) yang dibangun oleh Sultan Johan Syah setelah berhasil menaklukkan Kerajaan Hindu/Budha Indra Purba dengan ibukotanya Bandar Lamuri. Tentang Kota Lamuri ada yang mengatakan ia adalah Lam Urik sekarang terletak di Aceh Besar. Menurut Dr. N.A. Baloch dan Dr. Lance Castle yang dimaksud dengan Lamuri adalah Lamreh di Pelabuhan Malahayati (Krueng Raya sekarang). Sedangkan Istananya dibangun di tepi Kuala Naga (kemudian menjadi Krueng Aceh) di Kampung Pande sekarang ini dengan nama "Kandang Aceh". Dan pada masa pemerintahan cucu Sultan Alaidin Mahmud Syah, dibangun istana baru di seberang Kuala Naga (Krueng Aceh) dengan nama Kuta Dalam Darud Dunia (dalam kawasan Meligoe Aceh atau Pendopo Gubernur sekarang) dan beliau juga mendirikan Mesjid Djami Baiturrahman pada tahun 691 H. 

Pejuang Kerajaan Aceh
Banda Aceh Darussalam sebagai ibukota Kerajaan Aceh Darussalam dan kini merupakan ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam telah berusia 803 tahun (tahun 2008 M) dan merupakan salah satu kota Islam tertua di Asia Tenggara. Seiring dengan perkembangannya Kerajaan Aceh Darussalam dalam perjalanan sejarahnya telah mengalami masa gemilang dan masa-masa suram yang menggentirkan.

Adapun masa gemilang Kerajaan Aceh Darussalam yaitu pada masa pemerintahan "Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah, Sultan Alaidin Abdul Qahhar (Al Qahhar), Sultan Alaidin Iskandar Muda Meukuta Alam dan Sultanah Tajul Alam Safiatuddin".

Sedangkan masa percobaan berat, pada masa Pemerintahan Ratu yaitu ketika golongan oposisi "Kaum Wujudiyah" menjadi kalap karena berusaha merebut kekuasaan menjadi gagal, maka mereka bertindak liar dengan membakar Kuta Dalam Darud Dunia, Mesjid Djami Baiturrahman dan bangunan-bangunan lainnya dalam wilayah kota.

Kemudian Banda Aceh Darussalam menderita penghancuran pada waktu pecah "Perang Saudara" antara Sultan yang berkuasa dengan adik-adiknya, peristiwa ini dilukiskan oleh Teungku Dirukam dalam karya sastranya, Hikayat Pocut Muhammad.

Masa yang amat getir dalam sejarah Banda Aceh Darussalam pada saat terjadi Perang Di jalan Allah selama 70 tahun yang dilakukan oleh Sultan dan rakyat Aceh sebagai jawaban atas "ultimatum" Kerajaan Belanda yang bertanggal 26 Maret 1837. Dan yang lebih luka lagi setelah Banda Aceh Darussalam menjadi puing dan diatas puing kota Islam yang tertua di Nusantara ini. Belanda mendirikan Kutaraja sebagai langkah awal dari usaha penghapusan dan penghancuran kegemilangan Kerajaaan Aceh Darussalam dan ibukotanya Banda Aceh Darussalam.

Sejak itu ibukota Banda Aceh Darussalam diganti namanya oleh Gubernur Van Swieten ketika penyerangan Agresi ke-2 Belanda pada Kerajaan Aceh Darussalam tanggal 24 Januari 1874 setelah berhasil menduduki Istana/Keraton yang telah menjadi puing-puing dengan sebuah proklamasinya yang berbunyi:

Bahwa Kerajaan Belanda dan Banda Aceh dinamainya dengan Kutaraja, yang kemudian disahkan oleh Gubernur Jenderal di Batavia dengan beslit yang bertanggal 16 Maret 1874, semenjak saat itu resmilah Banda Aceh Darussalam dikebumikan dan diatas pusaranya ditegaskan Kutaraja sebagai lambang dari Kolonialisme.

Pergantian nama ini banyak menimbulkan pertentangan di kalangan para tentara Kolonial Belanda yang pernah bertugas dan mereka beranggapan bahwa Van Swieten hanya mencari muka pada Kerajaan Belanda karena telah berhasil menaklukkan para pejuang Aceh dan mereka meragukannya.
Awal Penetapan Kota Banda Aceh
Setelah 89 tahun nama Banda Aceh Darussalam telah dikubur dan Kutaraja dihidupkan, maka pada tahun 1963 Banda Aceh dihidupkan kembali, hal ini berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43. Dan semenjak tanggal tersebut resmilah Banda Aceh menjadi nama ibukota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan bukan lagi Kutaraja hingga saat ini.

Sejarah duka Banda Aceh ketika bencana gempa dan tsunami melanda Aceh pada hari Minggu tanggal 26 Desember 2004 jam 7.58.53 telah menghancurkan sepertiga wilayah Banda Aceh. Ratusan ribu jiwa penduduk menjadi korban bersama dengan harta bendanya menjadi mimpi buruk bagi warga Banda Aceh. Bencana gempa dan tsunami dengan kekuatan 8,9 SR tercatat sebagai peristiwa sejarah terbesar di dunia dalam masa dua abad terakhir ini.
Tsunami Aceh
Kini Banda Aceh telah mulai pulih kembali, kedamaian telah menjelma setelah perjanjian damai di Helsinki antara pemerintah RI dan GAM seiring dengan proses rehabilitasi dan rekontruksi Banda Aceh yang sedang dilaksanakan. Pemerintah Aceh kembali membangun Banda Aceh yang dilakukan oleh pemerintah pusat melalui Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh dan Nias (BRR) serta bantuan dari badan-badan dunia dan berbagai Negara Donor bersama lembaga asing maupun lokal. Pemerintah Aceh juga telah menetapkan kebijakan-kebijakan pembangunan yang disepakati bersama DPRD Aceh yang dituangkan dalam Rencana Strategis Kota Banda Aceh tahun 2005-2009, selanjutnya dituangkan dalam program kegiatan tahunan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Banda Aceh. Dengan kedamaian yang telah diraih ini dan melalui proses rehabilitasi dan reknstruksi, Banda Aceh mulai bangkit kembali, cahaya terang membawa harapan untuk meraih cita-cita bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. 
MoU RI-GAM

Pemerintahan

Peta Kota Banda Aceh
Kota Banda Aceh terdiri dari 9 Kecamatan, 17 Mukim, 70 Desa dan 20 Kelurahan. Walikota Banda Aceh yang sekarang adalah Mawardi Nurdin dan wakilnya Illiza Saaduddin Djamal. Mereka terpilih kembali dalam Pilkada pada 09 April 2012 untuk masa bakti periode 2012 s/d 2017 yang diusung Partai Demokrat, PPP, dan sejumlah partai lainnya, Hasil pemilihan tersebut menunjukan kedua pasangan itu meraih 43,44 persen suara. Namun sebelumnya, Mawardi Nurdin dan Illiza Saaduddin Djamal juga pernah menjabat sebagai wali kota dan wakil wali kota Banda Aceh periode 2006 s/d 2012 dari hasil pemilihan 11 Desember 2006 lalu.

Kecamatan
Semula hanya ada 4 kecamatan di Kota Banda Aceh yaitu Meuraksa, Baiturrahman, Kuta Alam dan Syiah Kuala. Kemudian berkembang menjadi 9 kecamatan yaitu: Baiturrahman, Banda Raya, Jaya Baru,Kuta Alam, Kuta Raja,Lueng Bata, Meuraksa, Syiah Kuala,dan Ulee Kareng

Daftar Wali Kota Banda Aceh

No.FotoNamaDariSampaiKeterangan
1.01 T. Ali Basyah.jpgTeuku Ali Basyah19571959 
2.02 T. Oesman Yacoub.jpgTeuku Oesman Yacoub19591967 
3.03 T. Mohd. Syah.jpgT. Mohd. Syah19671968 
4.04 T. Ibrahim.jpgT. Ibrahim19681970
5.02 T. Oesman Yacoub.jpgTeuku Oesman Yacoub19701973
6.05 Drs. Zein Hasjmy Ec.jpgDrs. Zein Hasjmy Ec19731978
7.06 Drs. Djakfar Ahmad MA.jpgDrs. Djakfar Ahmad MA19781983
8.07 Drs. Baharuddin Yahya.jpgDrs. Baharuddin Yahya19831993
9.08 Drs. Said Hussain Al-Haj.jpgDrs. Said Hussain Al-Haj19931998
10.09 Drs. Muhammad Y.jpgDrs. Muhammad Y19981998PLT Walikotamadya
11.10 Drs. Zulkarnain.jpgDrs. Zulkarnain19982003
12.11 Drs. H. Syarifuddin Latif.jpgDrs. H. Syarifuddin Latif20032004Pj Walikota
13.13 Ir. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc.jpgIr. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc20052006Pj Walikota
14.12 Drs. Razali Yussuf.jpgDrs. Razali Yussuf20062007Pj Walikota
15.13 Ir. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc.jpgIr. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc20072012Walikota
16.
Drs. T. Saifuddin TA, M.Si2012Juli 2012Pj Walikota
17.  13 Ir. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc.jpgIr. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc 2012SekarangWalikota               

Mawardi Nurdin & Illiza Saaduddin Djamal [Walikota dan Wakil Walikota Banda Aceh]


Referensi/Sumber
  1. acehpedia.org
  2. wikipedia.org
  3. waspada.co.id

Editor: Safrizal
 
VISIT ACEH
Copyright © Safrizal. 2014